Saya hanya ingin berbagi apa yang saya punya..

Totalitas

Saya pernah ada dalam satu situasi dimana saya sedang memimpin sebuah tim musik di gereja, dan saya sebagai seorang arranger sedang dituntut untuk memimpin tim saya untuk bermain dengan baik. Saya tidak sadar di satu titik kalau saya sedang dalam tidak dalam ‘mood’ yang baik. Saya tidak nyaman dengan suasana yang terbangun disana karena saya terganggu dengan monitor vokal yang ada di dekat saya. Seingat saya monitor tersebut tidak bisa memberikan paduan suara vokalis dengan benar, dan saya sudah berusaha memberikan sinyal kepada si operator untuk segera memperbaiki settingan monitor tersebut, tapi tidak bener juga rupanya.

Sepanjang permainan saya, saya tidak bisa menikmati permainan musik saya sendiri, apalagi teman teman yang lain. Saya malah menghabiskan tenaga dan pikiran saya untuk mengurusi masalah monitor vokal tersebut.

Dari kejadian ini saya belajar beberapa hal yang sangat penting saat kita bermain bersama sebuah tim :

1. Belajarlah jadi orang yang suka dengan “totalitas”, tapi tidak “perfeksionis”. Totalitas dan perfeksionis bukanlah 2 hal yang sama, malahan kedua hal ini benar benar berbeda. Totalitas dan perfeksionis berbicara tentang sikap kita saat kita menghadapi satu masalah saat kita melakukan satu pekerjaan. Saat menghadapi kendala, seorang yang Perfeksionis akan berusaha MENCARI SIAPA yang salah, sedangkan seorang yang Total akan mulai MENGEVALUASI APA yang salah, dan mulai memikirkan solusinya.

2. Komunikasi tim adalah hal yang lebih penting dari sekedar prestasi tim bermain bagus. Memang setiap pemain musik berharap dan diharapkan bisa bermain dengan benar dan baik, tapi saat kita ada di dalam sebuah tim, ada hal yang lebih penting, yaitu komusnikasi tim. Dengan membangun komunikasi yang baik, maka setiap personel akan merasa didukung dan termotivasi untuk bermain dengan benar dan baik.

3. Biasakan lakukan Sound Checking sebelum mulai bermain musik, usahakan bermain dengan terlebih dulu menyiapkan segala alat yang dipakai. Hal ini akan sangat membantu kita untuk bermain dengan lebih baik.

Tone Arrangement

Sebuah arrangement musik tidak hanya mengenai bagaimana kita bisa membuat sebuah song part menjadi lebih menarik (mengganti intro dengan buatan kita sendiri, atau membuat interlude yang menarik, tapi juga bagaimana kita memilih suara (tone) yang sesuai dengan musik yang kita sedang mainkan. Jangan anggap pemilihan suara ini adalah hal yang bisa “sembarang” saja. Hindari prinsip ini : “saya suka nya suara ini, ya saya pakai nya suara ini aja”. Khususnya pemain Keyboard, atau synthesizer. Jangan sampai tone / suara yang kita pakai ngga sesuai, karena itu akan berpengaruh ke soul lagu kita.

Contoh aja, kebetulan saya pemain keyboard. Saya pakai sebuah stage piano elektrik Korg SP-250.  Waktu saya main lagu yang soul nya agak “Rock”, saya lebih suka pakai suara Bright Piano, meski suara Electric Piano nya juga bagus. Karena menurut saya Bright Piano lebih “tajam” saat saya harus mengisi part lagu dengan beberapa ormanent atau arpeggio. Untuk lagu lagu mellow yang kesan nya “orchestral”, suara strings yang lebih sering adalah suara yang cukup tumpul, tapi jangan terlalu tumpul untuk membantu saya memainkan beberapa ornament. Kalau memungkinkan ya kadang kadang pakai Brass Section atau Choir Voice biar nuansa nya lebih orchestral. Ya itu sih beberapa contoh aja dari pengalaman saya.

Pemilihan tone / suara di instrument musik harus benar benar dipahami oleh setiap peronel di band kita, entah keyboardis, gitaris, bassis, bahkan pemain drum atau perkusi. Satu kali saya pernah bermain bersama sebuah band (bukan band saya), dan saya cukup terganggu dengan cara keyboardis nya memilih tone instrument nya. Waktu itu kami memainkan sebuah lagu yang menurut saya kesannya Rock yang orchestral (maksudnya Rock yang dibarengi dengan Strings Section), tapi malah dia pilih suara Brass yang cukup tajam, dan mainnya pun dia terus-terusan ngisi di banyak part. Pernah juga ketemu pemain bass yang waktu kami main lagu lagu yang “funky” (soul nya funk) tapi dia main sangat banyak di frekuensi Low, sehingga waktu harus main di ostinato (nada nada yang diulang) dia menutupi semua suara instrument lain.

Ya memang saat kita ngomong soal musik tuh kita ngomong soal selera, tapi selain selera, kan kita juga harus perhatiin beberapa hal biar musik kita tuh asik didenger kan? Yang saya banyak belajar dari temen temen saya yang adalah musisi ya kaya gini :

1. Jangan biasain main “penuh” terus, biasakan buat saling ndengerin gimana temenmu main, dan saat kamu harus ngisi, disiplinlah.

2. Pilihlah suara yang ngga “keluar” dari soul lagu mu.

3. Ngga perlu “adu keras” volume saat main, yang penting balance ma enak didenger.

4. Apapun instrument mu, carilah setting, atau carilah voicing sebanyak mungkin, jangan paksain satu tone tertentu untuk semua lagu, biar waktu main lagu, kita “kaya” akan tone, dan ngga monoton.

5. Seringlah eksperimen voice voice tertentu, cobalah pakai suara “Pad” saat memainkan lagu Rock bersama Gitar yang distorsi, suara “Sine Lead” untuk lagu lagu mellow yang kesannya Ballad (bukan orkestra), atau pakailah suara Clavi bersama dengan Bass Guitar untuk membentuk rhytm lagu yang kesannya Funk.

Lebih dari sekedar teori, atau pengetahuan, kita harus banyak mencoba dan jangan takut mengubah kebiasaan kita, jangan takut berubah. Selamat mencoba, God Bless you!!

Saya adalah seorang musisi (rasanya) di gereja, dan saya kadang kadang diberi kepercayaan membuat sebuah aransemen musik (lagi lagi merasa). Yang saya pikirkan saat saya melihat beberapa arranger musik yang inspiratif membuat musik yang sangat kreatif adalah seperti ini “mereka kok bisa kaya gitu gimana caranya ya?..”. Dan mulailah saya belajar dari pengalaman pengalaman bermusik saya.

PERTAMA : saya sempatkan untuk belajar mengenai “bagaimana” mental dan apa inspirasi yang membuat mereka sedemikian inspiratif. Saya ambil contoh, saya sangat mengagumi YANNI HRISOMALLIS, musisi asal Yunani, warga negara Amerika yang bahkan awalnya bukan seorang musisi. Yanni adalah seorang otodidak yang bahkan pada awalnya tidak terlalu menonjol di bidang musik. Dia adalah seorang juara renang saat dia masih remaja, dan pergi ke Amerika saat sudah mulai dewasa. Ciri khas musik nya adalah sebuah formasi band modern yang dikolaborasi untuk bermain bersama sebuah orkestra, yang memainkan lagu lagu bernuansa “classic”, tidak jarang mengangkat musik “free jazz” dan banyak “ethnic”. Dan ini yang bisa kita pelajari : yanni sanggup mengkolaborasi banyak musisi dari seluruh dunia, dengan berbagai genre musik, latar belakang dan semuanya bermain untuk satu tujuan harmoni. Semuanya didasari oleh satu musik yang dia tulis yang berjudul “Niki Nana” (artinya : We are one / Kita adalah satu).

KEDUA : mereka selalu bisa membawa “soul” (penjiwaan) dalam setiap musik mereka. Kita sering sekali mendengar hal ini, tapi apa kita sadari dalam setiap musik kita, sudahkah kita membawa totalitas kita untuk memainkan musik kita?

KETIGA : perhatikan bagaimana anda me ”manage” band anda. Saya tidak berbicara mengenai seberapa lengkap band anda, tapi saya mau berbagi bagaimana setiap personel band anda maksimal di bagian nya masing masing. Setiap personel harus tahu dimana dia akan bermain, dan tanggung jawab apa yang mereka bawa. Belajarlah bermain secara disiplin, dan bertanggung jawab.

KEEMPAT : Carilah dan selalu “ciptakan” kombinasi chord yang fresh. Apa maksudnya? Kadang kadang kita terjebak dengan progresi chord yang monoton, sebagai contoh saja, saya akan ambil sebuah progresi chord di nada dasar C. Progresinya seperti ini : C – Am – Dm – G (kaya kuburan band deh rasanya.. -_-“ ). Kita bisa kembangkan seperti ini contohnya :

– Kita bisa gunakan chord E7 untuk menjembatani Chord C dan Am.

– Gunakan chord F/G (F on G) untuk membuat Chord G nya lebih enak didengar.

– Kalau saya, kadang kadang pakai Chord Major 7th untuk membuat sebuah chord nya terdengar tidak monoton, misalnya pakailah Cmaj7.

KELIMA : biasakan untuk banyak mendengar, dan memperkaya diri dengan referensi yang baru. Jika anda seorang musisi, maka anda harus suka mendengarkan dan me-review lagu lagu. Never quit learning!!

Gog Bless You!!!

Satu kali saya berpikir tentang bagaimana sebenarnya dunia video editing terjadi dan berkembang hari hari ini. Sebuah pertanyaan yang seringkali muncul adalah mengenai pengertian Linear Video Editing dan Non Linear Video Editing. Dan ternyata dari kedua penertian ini saya mendapati ternyata dunia video editing telah mengalami banyak sekali perkembangan.

Pada dasarnya Linear dan non Linear Video Editing didasarkan dari bagaimana proses editing dilakukan oleh sang editor. Mari kita bahas secara mudah.

Linear Video Editing (tape-to-tape) dilakukan dengan cara dari source tape (hasil dari shooting) yang direkam ulang ke destination tape (master film nya) melalui melalui sebuah workstation yang dapat memberikan “video effect” dan “transition” ke dalam destination tape. Jika ada dari anda yang pernah menggunakan sebuah video mixer untuk melakukan mixing video secara real-time, maka kira kira seperti itulah sebuah Linear Video Editing dilakukan. Cukup repot, dan resiko nya cukup banyak, karena meskipun source tape dan destination tapenya bisa diulang / rewind, tapi tetap saja memakan waktu dan kerepotan tidak terhindarkan.

Dari keadaan inilah maka mulai dikembangkan sebuah system baru yang kita kenal hari ini dengan Non-Linear Video Editing. System ini ditandai dengan penggunaan computer, capturing device, dan yang pasti Non Linear Video Editing Software. Proses Non Linear Video Editing secara mudah akan saya coba bahas seperti ini (sesuai pengalaman saya aja, biar ngga bohong.. -_-“ ) :

Dari tape yang kita pakai untuk shooting (source tape), kita akan masukkan ke dalam hard drive computer kita. Proses ini yang jelas melibatkan player sesuai dengan tape yang kita pakai, kalau kita menggunakan camcorder dengan media tape (cassette) mungkin MiniDV Player, Hi-8 Player, atau VHS Player. Kalau kita menggunakan DVDCamcorder, mungkin kita perlu sebuah software yang dapat mengubah format DVD ke dalam format yang bisa dibaca oleh software editing kita, misalnya DV, MPG, MOV, atau WMF. Kalau software kita bisa meng-encode DVD langsung dari interface nya lebih baik lagi, tidak perlu software lain. Sebuah capturing device juga berperan sangat besar di dalam langkah ini. Kita bisa menggunakan sebuah Firewire card (formatnya digital video, dan harganya murah kok), atau sebuah Capturing Device yang lain. Yang saya pernah pakai Snazzi DV Avio, Analog bisa, Digital bisa. Trus pernah pakai Pinnacle Studio MP10. Teman saya pernah pakai Dazzle MovieStar, dan cukup baik hasilnya. Setelah semua video hasil shooting kita masuk ke hard drive computer kita, maka kita siap membuat sebuah video kreasi kita sendiri. Untuk pilihan software, itu sesuai selera anda, dan spesifikasi computer anda. Setelah proses editing selesai, maka kita bisa lakukan mixdown, atau rendering ke format yang anda inginkan, dan segera anda bisa membuat cd video anda sendiri.

Selamat mencoba!! God Bless You!!